JMS || KOTA BEKASI
Konflik kepemimpinan di tubuh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) terus menjadi perbincangan hangat di kalangan Publik. Dengan adanya dualisme kepemimpinan di tingkat pusat, banyak anggota PWI di daerah merasa bingung dan mempertanyakan kejelasan organisasi. Hal ini pun mencuat dalam diskusi internal PWI Bekasi Raya.
Dalam sebuah percakapan di grup WhatsApp PWI Bekasi Raya, salah satu anggota,mengajukan pertanyaan, “Yang jadi pertanyaannya adalah: sampai kapan para wartawan akan terus terjebak dalam kebingungan ini?”
Menanggapi pertanyaan tersebut, Ketua PWI Bekasi Raya, Ade Muksin, memberikan jawaban yang menekankan pentingnya profesionalisme dan soliditas di tingkat daerah.
Ade Muksin menyatakan bahwa dirinya memahami kegelisahan anggota terkait situasi yang terjadi. Namun, ia mengingatkan bahwa sebagai organisasi besar, PWI pasti mengalami dinamika, termasuk di tingkat pusat.
“Yang terpenting, kita di daerah tetap menjaga profesionalisme dan soliditas. Konflik di pusat akan selesai pada waktunya karena PWI memiliki mekanisme organisasi yang sah dan diatur oleh PD/PRT,” ujar Ade Muksin.
Ia juga menegaskan bahwa PWI Bekasi Raya tetap fokus melindungi kepentingan anggota, menjalankan program kerja, dan mendukung PWI Pusat serta PWI Jabar yang sah.
“Saya mengajak semua anggota agar tidak larut dalam konflik, tetap bekerja profesional, dan menjaga nama baik PWI di lapangan,” tambahnya.
Ade Muksin juga menekankan bahwa PWI sedang dalam proses pembenahan internal. Oleh karena itu, ia meminta agar semua anggota tetap tenang dan menjaga marwah organisasi.
“Percayalah, organisasi ini sedang melakukan penataan dan pembenahan internal. Tugas kita di daerah adalah menjaga marwah organisasi dan tetap melayani kepentingan wartawan secara profesional.”
Sebagai penutup, ia mengajak seluruh anggota PWI Bekasi Raya untuk tetap bersatu dan menjaga solidaritas.
“Mari kita tetap solid, saling menguatkan, dan menunjukkan bahwa PWI Bekasi Raya adalah rumah yang nyaman bagi para wartawan. Bersama kita kuat, bersama kita jaga martabat profesi kita.”
Pernyataan Ade Muksin ini menjadi sinyal bahwa meskipun ada konflik di tingkat pusat, PWI di daerah tetap berkomitmen untuk menjalankan tugasnya dengan profesional. Kini, pertanyaannya, apakah konflik dualisme ini akan segera berakhir. (Saut)